Kisah Dibalik Budaya Pertanian Adat Indonesia

By | 21 Juli 2019

Bahkan saat ini, pertanian adalah pendorong utama perekonomian Indonesia, menyediakan makanan dan pendapatan bagi rumah tangga. Gaya hidup pertanian membentuk budaya pertanian asli yang, pada gilirannya, membentuk bagaimana banyak orang Indonesia menjalani kehidupan sehari-hari mereka. Temukan sejarah terperinci budaya pertanian asli Indonesia.

Sejarah

Pertanian dan pertanian di Indonesia berkembang bahkan sebelum negara itu ada dalam bentuknya saat ini. Sebelum kolonialisme, daerah yang sekarang membentuk Indonesia diperintah oleh kerajaan kuno yang terpisah. Pertanian berkontribusi signifikan terhadap ekonomi kerajaan. Potensi pertanian pulau-pulau adalah salah satu alasan utama kolonialis tertarik ke Indonesia, bersama dengan lokasi strategis negara itu pada rute perdagangan yang sibuk.

Kolonialisme memberi dorongan pertanian di Indonesia. Alih-alih tanaman karbohidrat biasa seperti beras, jagung, dan singkong, petani diperintahkan oleh otoritas Belanda untuk menanam komoditas yang sangat berharga di pasar global. Ini termasuk kopi, teh, tembakau, dan tebu. Akhirnya, itu menyebabkan penurunan yang signifikan dalam produksi produk untuk penggunaan sehari-hari, yang mengakibatkan kelaparan di beberapa daerah di Indonesia.

Jepang menduduki Hindia Belanda (sekarang Indonesia) dari tahun 1942 hingga 1945. Mereka mengalihkan fokus pertanian kembali ke karbohidrat, terutama beras. Setelah kemerdekaan, terutama selama era Orde Baru (1969-1998), beras tetap menjadi tanaman utama yang didorong oleh pemerintah. Namun, produksi tanaman lain terus berlanjut.

Pada 2017, Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia, penghasil kopi terbesar keempat, penghasil tembakau terbesar kelima, dan penghasil teh terbesar keenam.

Warisan budaya

Seperti banyak aspek lain dari kehidupan orang Indonesia, pertanian telah dipengaruhi oleh naik turunnya agama dan kerajaan. Orang Bali menggabungkan prinsip-prinsip Tri Hita Karana ke dalam kebiasaan bertani mereka. Ini adalah ajaran Hindu yang mempromosikan keharmonisan antara manusia dan Tuhan, manusia lain, dan lingkungan. Di Bali, kuil dan persembahan dibangun di sekitar sumber air, pertanian diatur di sekitar masyarakat, dan sawah telah dibangun untuk mengairi sawah tanpa menyia-nyiakan sumber daya air.

Bali mengoordinasikan komunitas pertanian sesuai dengan alam. Petani yang mengairi sawah mereka dari mata air atau sumber air yang sama adalah milik komunitas yang sama. Komunitas-komunitas itu mengatur pengembangan pertanian, menyelesaikan masalah, mengontrol distribusi air, dan mengatur upacara keagamaan. Sistem tradisional masih beroperasi di Bali saat ini.

Budidaya padi dan tanaman lain juga penting untuk sistem sosial dan masyarakat di bagian lain Indonesia. Untuk mengairi dan mengolah tanah secara efektif dalam area tertentu, hubungan dibentuk antara petani, antara pemilik tanah, antara petani dan pemilik tanah, dan antara pekerja harian.

Sawah yang mirip dengan yang ditemukan di Bali dapat ditemukan di bagian lain Indonesia juga, seperti Sumatra dan Sulawesi. Namun, mereka mengikuti filosofi yang berbeda karena sistem kepercayaan yang berbeda dominan di bidang ini. Organisasi dan pertanian sawah di daerah-daerah tersebut mencerminkan kearifan lokal tentang cara bertani di daerah pegunungan sambil melestarikan air.

Orang Jawa sangat filosofis tentang pertanian. Petani tradisional Jawa memandang bertani tidak hanya sebagai tenaga kerja tetapi sebagai tugas spiritual dan eksistensial. Para petani tahu apa, di mana, dan bagaimana menanam, dan mengikuti pranoto mongso, atau aturan musiman tradisional, tentang apa yang harus ditanam pada waktu-waktu tertentu untuk hasil maksimal sambil menjaga keseimbangan alam. Orang Jawa juga terus menggunakan alat pertanian tradisional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *